Dari mana aku harus memulai? Bukankah diamku itu harus kau pahami, dimana letak pedulimu bukankah diam ku cukup untuk memperingatkanmu. Sebenarnya aku tak benar-benar diam karena dalam isi kepalaku sangat lah ramai. Aku berontak, menolak, dan menanti. Otaku berdealektika keras dengan hati. Sebenarnya Apa yang aku atau kau perbuat? Ternyata yang kuperbuat hanyalah diam. Dan kau juga sama diamnya tak mengeluarkan ucapan apapun. Rupanya kita berada dalam kata terkhir yang telah kusebutkan sebelum titik ketiga. Kita sama-sama MENANTI apa yang akan terucap dari bibirmu atau bibirku. Pengecut!! tidak ada yang berani memulai dan pada akhirnya aku putuskan bahwa “Berpikir baik-baik saja akan lebih buruk jika tidak dibicarakan dengan baik”. Maka berbicaralah atas apa yang kita pendam dan atas apa yang kita pikirkan.
DIAM
Telah Terbit
